-->

Kumpulan kata kata, doa dan motivasi Islam penyejuk hati

Inilah Waktu Shalat Istikharah yang Paling Tepat

Inilah Waktu Shalat Istikharah yang Paling Tepat
Inilah Waktu Shalat Istikharah yang Paling Tepat
Shalat istikharah merupakan shalat sunnat yang dilakukan minimal dua rakaat dan paling banyak 12 rakaat. Shalat istikharah sering dilakukan oleh umat muslim untuk meminta petunjuk kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas pilihan yang masih ragu. Untuk waktu shalat istikharah, bisa dilakukan kapan saja kecuali waktu yang dilarang untuk melakukan shalat.

Meskipun waktu shalat istikharah bisa dilakukan kapan saja, namun lebih efektif jika dilakukan ketika waktu sepertiga malam seperti waktu shalat tahajud. Alasannya agar Anda bisa lebih khusyuk dalam memohon petunjuk kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Sebelum membahas tentang waktu dalam shalat istikharah, ada baiknya Anda mengetahui beberapa hadist yang membahas tentang shalat ini. Hadist apa saja yang membahas tentang shalat istikharah? Kapan waktu terbaik untuk melaksanakan shalat istikharah? Berikut penjelasannya.

Hadist Tentang Waktu Shalat Istikharah yang Harus Anda Ketahui

Ada beberapa hadist tentang waktu shalat istikharah yang harus Anda ketahui. Hal tersebut dilakukan agar menghindarkan manusia khususnya umat muslim dari perbuatan syirik dengan meminta petunjuk kepada selain Allah subhanahu wa ta'ala. Hadist yang pertama adalah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari. Hadist tersebut berbunyi, "Jika ada salah seorang diantara kalian memiliki niat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat sunnah sebanyak 2 rakaat yang bukan termasuk dalam shalat wajib. Kemudian berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta'ala."

termasuk dalam shalat wajib. Kemudian berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta'ala."

Hadist kedua yang mengemukakan tentang waktu shalat istikharah adalah hadist riwayat Jabir bin Abdillah. Hadist tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajari para sahabatnya untuk melaksanakan shalat istikharah dalam setiap urusan. Sebagaimana beliau juga mengajari surat dari Alquran. Kemudian beliau bersabda, "Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, makasih kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu. Kemudian berdoa: اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ فَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ هَذَا الأَمْرَ – ثُمَّ تُسَمِّيهِ بِعَيْنِهِ – خَيْرًا لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – قَالَ أَوْ فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – فَاقْدُرْهُ لِى ، وَيَسِّرْهُ لِى ، ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، اللَّهُمَّ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّهُ شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى – أَوْ قَالَ فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ – فَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِىَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ، ثُمَّ رَضِّنِى بِهِ

“Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.”

Doa dalam waktu shalat istikharah tersebut memiliki arti yaitu, "Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu, dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan. Dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu, dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang mentakdirkan dan aku tidaklah mampu untuk melakukannya. Engkau yang Maha Tahu. Sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang ghaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat) maka palingkanlah ia dariku. Dan palingkanlah aku darinya. Dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya. Dan jadikanlah aku ridho dengannya. Kemudian dia menyebut keinginannya."

Dalam kedua hadist tersebut, dijelaskan bahwa shalat istikharah merupakan shalat yang dilakukan ketika ingin mendapatkan petunjuk kepada Allah subhanahu wa ta'ala atas dua pilihan yang tengah dirasakan oleh para umat muslim. Agar bisa khusyuk dalam melaksanakan shalatnya, maka Anda boleh melakukan waktu shalat istikharah tersebut saat tengah malam. Berdoalah dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah subhanahu wa ta'ala akan memberikan petunjuk-Nya yang terbaik.

Waktu Shalat Istikharah Terbaik yang Harus Anda Ketahui

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa waktu shalat istikharah bisa dilakukan kapan saja selama itu bukan waktu yang dilarang dalam shalat. Tetapi, ada waktu yang terbaik dalam melaksanakan shalat istikharah ini adalah dikerjakan pada malam hari. Waktu pada malam hari tersebut adalah dimulai dari waktu shalat isya sampai sebelum waktu imsak atau memasuki waktu shalat wajib shubuh.

Untuk lebih jelasnya terkait waktu shalat istikharah, Anda bisa mengetahuinya dalam hadist shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Disini dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda," Di setiap malam Allah subhanahu wa ta'ala turun ke langit dunia sampai tersisa sepertiga malam terakhir. Dan Allah subhanahu wa ta'ala berkata,"Adakah hambaku yang meminta sehingga pasti Aku akan berikan apa yang ia pinta? Adakah hambaku yang berdoa hingga pasti Aku akan mengabulkan doanya? Adakah hambaku yang memohon ampunan (beristighfar) sehingga aku akan mengampuni dosanya."

Dalam hadist yang diriwayatkan oleh bukhari dan muslim tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa waktu shalat istikharah yang terbaik adalah dikerjakan pada malam hari. Meskipun boleh dikerjakan pada pagi atau siang hari dan tanpa tidur terlebih dahulu, tetapi sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada malam hari dan tidur dahulu. Setelah selesai melaksanakan shalat istikharah, sangat dianjurkan bagi Anda untuk berdzikir sebanyak-banyaknya sebelum Anda memanjatkan doa kepada Allah subhanahu wa ta'ala.

Jadi sudah jelas bahwa waktu shalat istikharah yang terbaik adalah dilakukan pada malam hari di sepertiga malam. Lakukanlah dzikir dan berdoa dengan khusyuk agar segala keraguan yang Anda rasakan dapat petunjuk yang terbaik dari Allah subhanahu wa ta'ala. Dengan melaksanakan shalat istikharah di malam hari, makasih Anda juga bisa sekalian untuk melaksanakan shalat tahajud. Dan jangan lupa, lakukan shalat istikharah ini setiap hari dengan rajin, karena petunjuk tersebut tidak akan muncul jika Anda hanya melaksanakannya dalam satu hari saja.

Waktu Shalat Istikharah Terbaik yang Wajib Anda Ketahui

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa shalat istikharah adalah shalat yang dikerjakan ketika Anda memiliki keraguan atas dua pilihan yang harus Anda lakukan. Untuk itu, Anda boleh melakukan shalat istikharah kapan saja selama waktu tersebut bukan waktu terlarang untuk melaksanakan shalat. Dengan demikian, waktu shalat istikharah yang terbaik adalah dilaksanakan pada malam hari di sepertiga malam. Lakukanlah dzikir sebanyak mungkin sebelum berdoa untuk meminta petunjuk yang sebaik-baiknya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Sejarah Adanya Tahlilan, Apakah Sesat?

 Sejarah Adanya Tahlilan, Apakah Sesat?
Sejarah Adanya Tahlilan
Sejak kecil saya sering dibawa tahlilan oleh kakek saya, baik tahlilan untuk mendoakan orang mati, selamatan maupun rutian setiap malam jum’at. Tapi sampai saat ini saya belum begitu paham mengenai sejarah tahlilan, yang akhir akhir ini sering dibilang sesat atau bid’ah oleh suatu kelompok. Karena rasa penasaran akhirnya terpaksa saya mencari referensi sejarah tahlilan baik melalui sumber informasi di online, ulama NU maupun lewat buku cetak. Sumber Informasi online sangat terbatas, ustad dan kyai disekitarku tidak begitu paham (masih taklid dengan gurunya, hanya paham dan teknis pelaksanaanya) padahal yang kita butuhkan sebagai pemuda adalah kejelasan sejarah, hukum, tujuan dan manfaatnya. Ujung ujungnya harus mengeluarkan biaya untuk membeli buku mengenai tahlilan agar punya sumber yang valid.

Masalah tahlil sampai saat ini masih menjadi bahan untuk enak dijadikan bahan perdebatan antar kelompok pro dan kontra. Banyak informasi yang mengatakan tahlilan dan yasinan itu sesat, kemudian muncul dri reaksi yang pro dengan pembelaan, tentu kelompok ini adalah Nahdlatul Ulama yang melakukannya. Sedangkan yang anti adalah faham wahabi. Apalagi sejak masyarakat mulai ramai menggunakan sosial media sebagai alat mengungkapkan pendapat. Ramai sekali, namun umunya adalah debat kusir. Ga jelas, maka, kedua belah pihak mau tidak mau harus mengeluarkan dalil dalil tentang tahlilan.

Sejarah Tahlilan


Mungkin kalian pernah mendengar sejarah tahlilan adalah tradisi orang hindu yang secara turun temurun dilakukan oleh penganut islam nusantara. Itu tidak benar. Jangan percaya informasi tersebut. Jadi begini, berdasarkan buku cetak karangan KH Muhammad Danial Royyan, ketua tanfidziyah PCNU Kendal (2012-2017) ada banyak hal mengenai sejarah adanya tahlilah. Beliau menulis buku tersebut atas dasar kegelisahannya terhadap Tahlilan yang dijadikan sasaran empuk bagi kaum salafi wahabi. Akhirnya sebagai bentuk pembelaan Nahdliyyin beliau menuliskan buku sejarah tahlilan dalam bentuk saku, seperti buku saki tahlilan yang ada saat ini.

Tahlil memang tidak ada pada zaman nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Tahlilan baru muncul sejak zaman ulama muta’akhirin sekitar abad sebelas hijriyah. Kemunculan tradisi tahlilan bersumber pada istimbath dari Al Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Ulama ulama tersebut kemudian menyusun rangkaian bacaan tahlil untuk bisa diamalkan secara rutin dan mudah untuk mengajarkan kepada masyarakat. Dan sampai sekarang tahililn yng kita kenal dan lakukan.

Pencetus Tahlilan


Siapa pencetus tahlilah? Dalam buku karangan KH Muhammad Danial Royyan, ada dua versi siapa pencetus tahlilan, yakni Sayyid Ja’far Al- Barzanji dan Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Keduanya adalah ulama terkenal pada zamannya dan sampai sekarang pun karya karyanya masih bisa kita jumpai. Namun pendapat yang paling kuat mengenai siapa penyusun pertama bcaan tahlil adalah Imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad. Sebab Imam Al- Haddad yang wafat pada tahun 1132 H lebih dahulu daripada Sayyid Ja’far Al – Barzanji yang wafat pada tahun 1177 H. Artinya tahlil sudh ada sejak imam Sayyid Abdullah bin Alwi Al Haddad.

Tahlilan Dalam Kehidupan Sekarang


Itulah sejarah tahlilan, Lalu bagaimana tahlilan dalam kehidapan masyrakat sekarang? Khususnya warga NU? Tradisi tahlilan sudah mengakardan turun temurun sudah dilakukan. Tahlilan dilakukan pada 7 hari berturut-turut setelah orang meninggal, kemudian dilanjut di hari ke-40, hari ke-100 (nyatus), dan ke-1000 hari (nyewu). Ada juga yang melakukan lebih dri itu, dengan istilh mendak pisan, menak pindo, artinya melakukan beberapa selamatan tahlilan lebih dari satu. Begitulah sejarah tahlilan dari awal sampai sekarang. Ada yang terus melakukan, ada yang juga yang sudah tergerus zaman.

Contoh Contoh Bid’ah Masa Kini, Wajib Tahu!

 Contoh Contoh Bid’ah Masa Kini
Apa itu si bid’ah? Apakah sejenis makanan? Lalu apa saja contoh contoh bid’ah dalam kehidupan sehari hari? Sebelum memahami bid’ah, coba renungkan kita memakai internet bid’ah apa enggak. Udah? Sekarang coba buka kitab ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, Kalau enggak punya bisa mengutip kalimat dalam artikel ini mengenai bid’ah. Dalam kitab Risalah tersebut, istilah "bid’ah"secara syara’ memiliki pengertian munculnya perkara atau hal baru dalam agama islam yang kemudian mirip dengan satu atau beberapa bagian ajaran agama, padahal bukan bagian dari agama baik formal maupun hakekatnya.

Pengertian bid’ah mengacu pada hadist rossululloh SAW, bid’ah adalah setiap perkara baru yang muncul dalam kehidupan. Nabi juga bersabda ,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”. Kemudian diperjelas dengan hadist berikutnya,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Kemudian, apakah semua yang baru benar benar bid’ah? Belum tentu. Menurut Imam Syafi’i, Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah dan yan bertentangan dengan sunnah. Artinya ada bid’ah yang boleh dilakukan dan ada bid’ah yang sesat, dan kesesatan tentu ujungnya di neraka.

Jenis dan contoh Contoh Bid’ah


Jika mengacu pada pendapat imam syafi’i, sudah jelas kalau jenis bid’ah ada dua, yakni bid’ah terpuji diperjelas lagi oleh ulama Madzhab Hanbali, Ibnu Rajab Al-Hanbali sebagai berikut.

وقال الحافظ ابن رجب الحنبلي: والمرادُ بالبدعة: ما أحدث مما لا أصل له في الشريعة يَدُل عليه، أما ما كان له أصل من الشرع يدل عليه، فليس ببدعة شرعاً، وإن كان بدعة لغة.

Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ‘Yang dimaksud bid‘ah sesat itu adalah perkara baru yang tidak ada sumber syariah sebagai dalilnya. Sedangkan perkara baru yang bersumber dari syariah sebagai dalilnya, tidak termasuk kategori bid‘ah menurut syara’/agama meskipun masuk kategori bid‘ah menurut bahasa,’” (Ibnu Rajab Al-Hanbali pada Syarah Shahih Bukhari).

Informasi yang belum diteli mengeni jenis dn contoh bid’ah yang beredar di msyrakat saat itu, kemudian di perjelaskan lagi lebih detail oleh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam, ulama madzhab Syafi’i abad 7 H “

Beliau berpendapat bahw “Bid‘ah adalah suatu perbuatan yang tidak dijumpai di masa Rasulullah SAW. Bid‘ah itu sendiri terbagi atas bid‘ah wajib, bid‘ah haram, bid‘ah sunah, bid‘ah makruh, dan bid‘ah mubah. Metode untuk mengategorisasinya adalah dengan cara menghadapkan perbuatan bid‘ah yang hendak diidentifikasi pada kaidah hukum syariah.

Contoh Bid’ah


Sekalipun kita sudah tahu mana bid’ah mana yang bukan, kadang bingung contoh contoh bid’ah dalam kehidupan sehari hari, apalagi masa kini ketika banyak hal baru yang muncul. Tentu perlu contoh pasti aagar bisa menjadi patokan disetiap jenis jenis bid’ah.

Contoh bid‘ah wajib :

· mempelajari ilmu nahwu (gramatika Arab) sebagai perangkat untuk memahami Al-Quran dan Hadits
· mendokumentasikan kata-kata asing dalam Al-Quran dan Hadits,
· pembukuan Al-Quran dan Hadits,
· penulisan ilmu Ushul Fiqh.

contoh bid‘ah haram :

hadirnya madzah Qadariyah, Jabariyah, Murjiah, atau Mujassimah.

Contoh bid’ah makruh

· menghias mushhaf dengan emas

contoh bid’ah mubah

· jabat tangan usai sembahyang subuh dan ashar
· Membeli atau memakai pakaian yang bagus
· Membeli rumah yang layak

Sudah pahamkah? Jika sudah paham, jangan katakan ini adalah kebenaran. Sebab tidak semua bisa menerima keberanan yang ada dikepala kita. Tetaplah menyebarkan kebaikan kebaikan tanpa memperdulikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Sekian, semoga artikel mengenai jenis dan contoh bid’ah bisa bermanfaat. Terima kasih.

Dalil dan Bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap 2019

Dalil dan Bacaan Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap
Perayaan Maulid Nabi
Sering kali terjadi perdebatan mengenai perayaan atau peringatan maulid nabi Muhammad SAW atau lebih simpel disebut sebagai maulidan , Ada yang mengkategorikan sebagai bid'ah dan ada juga yang menganggapnya sebuah amalan dan disarankan untuk dilakukan. Didalam sebuah perdebatan, kedua belah pihak selalu mengandalkan dalil maulid nabi, dalil apa yang menganjurkan peringatan maulid dan dalil apa yang tidak mengajurkannya sehingga bisa simpulkan sebagai bid'ah. Padahal diluar kontek teknis, ada sebuah esensi dan makna yang harus umat muslim tekankan bahwa maulid nabi adalah bentuk rindu kepada rosululloh dan belajar merindukan sosoknya, agar kita sebagai umatnya tidak lupa keteladanan dan jasa jasa serta sedikit demi sedikit mengikuti dan menerapkan sifat dan perilakunya. Dan peringatan tersebut adalah moment bersama sama untuk merindukannya. Mungkin bagi yang ingin tahu lebih dalam mungkin bisa membaca dalil dan bacaan maulid nabi Muhammad SAW pada artikel ini.

Membahas dalil mengenai peringatan maulid nabi memang sangat riskan terjadi perdebatan antar kelompok yang pro dan yang kontra, tapi atas nama perdamaian setidaknya kita bisa merenungkan lagi bahasan dalil dan bacaan maulid nabi. Coba kita berpikir, kalau rindu kepada nabi Muhammad apa harus mikir dalil dulu? Djancuk kan? Ibarat kalau kangen sama istri, terus istrinya bilang "Dalile kangen opo mas?" dalile yo mergo tresno dek. Kemudian stigma umat yang awam terhadap perayaan maulid nabi adalah bentuknya itu itu aja dari dulu, padahal merayakan maulid nabi kan boleh dalam bentuk apapun,bisa bersama sama maupun secara individu asal tidak melanggar apa yang dilarang baik secara hukum agama (Dalil dan hadist). Namunnya perayaan pasti sama sama ya kan? Makanya lebih umum seperti yang kita kenal saat ini. Jika ada yang menyamakan dengan HARI Natal karena meniru orng kafir, terus kenapa kalian juga ikut ikutan pakai hp buatan kafir? jelas beda, sebab natal merayakan lahirnya, kalau maulid nabi sebagai bentuk mengagugkan nabi, memperkenalkan nabi ke generasi penerus agar meneladani sifat dan perilakunya.

Jika ada yang mengatakan sebuah bid'ah, jangan dulu mengatakannya. Sebab bid'ah menurut riwayat Abu Nu’aim, Imam Syafi’i berkata Bid’ah itu ada dua macam yakni  Bid’ah Hasanah (Bid’ah terpuji ) yaitu yang sesuai dengan Kitabullah, sunnah Nabi Saw, Atsar sahabat-sahabat dan Ijma’ dan Bid’ah Dlalalah (Bid’ah tercela) yaitu yang tidak sesuai atau menentang Kitabullah, sunnah Nabi Saw, atsar sahabat.

Dalil Dali Maulid Nabi


Bagi yang sedang belajar agama lebih baiknya sih ke ulama ulama sanadnya jelas, namun di artikel ini pun bisa namun soal kebenaran hanya milik Alloh SWT. Jadi patokannya adalah belajar dari yang sudah kompeten. Artikel ini hanya untuk menjadi bahan bukan patokan. Berikut dalil dalil maulid nabi.

Dalil Maulid Nabi (AL QUR'AN)


Mengagungkan Nabi Muhammad salah satunya dengan shalawat, shalawat selalu ada dalam peringatan maulid nabi. Apalai maulid nabi adalah moment bersama, bertapa indah jika bershalawat bersama.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab: 56)


وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ


Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman (QS Hud:120)


Dalam peringatan maulid nabi, jamaah diceritakan mengenai kisah kisah rosul dengan tujuan agar lebih teguh hatinya meneladani dari sang suri tauladan terbaik. Pada intinya sama dengan pengajian ustad ustad televisi atau orang yang mengatakan maulid nabi  itu bid'ah tapi menghadiri acara dalam rangka peringatan atau perayaan tertentu. Kan jancuk. ngomong bid'ah, malah melakukannya. Katanya bid'ah... Jadi begini ya, jangan hanya karena tidak ada kata "MAULUD NABI ATAU PERAYAAN" DALAM AL QUR'AN, TERUS BILANG BID'AH. Jangan! Alloh itu romatis, tidak selamanya pesan itu tersurat. Ada sebagian tersirat. Intinya jangan terlalu tekstual, belajar pula kontekstual dan esensial.

Dari dua hadis itu pun kita bisa langsung menyimpulkan bahwa mualid nabi hanyalah format, moment atau wadah, hakikatnya adalah bershalawat, meneladani perjuangan Rasulullah, melantunkan ayat Al-Qur’an, berdoa bersama dan kadang diisi dengan ceramah agama yang mana perbuatan-perbuatan semacam ini sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an maupun Hadits. 



Sabda oleh Nabi Muhammad Saw :

مَنْ أَحَبَّنِى كَانَ مَعِيْ فِي الْجَنـَّةِ

“Barang siapa yang senang, gembira, dan cinta kepada saya maka akan berkumpul bersama dengan saya masuk surga”



Sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq berkata :

مَنْ أَنْفَقَ دِرْ هَماً فِى مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ رَفِيْقِيْ فِى الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang memberikan infaq satu dirham untuk memperingati kelahiran Nabi Saw : akan menjadi temanku masuk surga”.

Sahabat Umar Bin Khoththob berkata :

مَنْ عَظَّمَ مَوْ لِدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ أَحْيَا اْلإِسْلاَمَ

“Barang siapa yang memuliakan / memperingati kelahiran Nabi Saw, berarti telah menghidupkan Islam”.

 Para sahabatnya pun mengatakan cintanya kepada rosul seperti maulid nabi.

Itulah dalil dali maulid nabi yang bisa menjadi refrensi untuk melakukannya. Sekalipun tidak, cukup diam dna jangan mengusik cinta umatnya.

BACAAN MAULID NABI 

Apa si bacaan maulid nabi? Ada beberapa bacaan doa shalawat dalam peringatan maulid nabi Muhammad SAW. 
  • Maulid al-Diba'i, atau biasa dikenal dengan Maulid Diba' Karya al-Imam al-Jalil Abdurrahman al-Diba'i [baca
  • Burdah karya Imam al-Bushiri  [baca
  • Simthudduror atau biasa dikenal dengan Maulid Habsyi Karya al-Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi {BACA )
  • Maulid Nabi Dhiya'u al-Lami' Karya al-Habib bin Umar bin Hafidz bin Syeikh Abu Bakar 
  • al-Barzanji, Karya Zainal Abidin bin Ja'far al-Barzanji [baca
  • Kitab Diwan Karya Sayyid Muhammad Amin Kutbi al-Hasani [baca
  • Kitab Maulid Asysyarab al-Thohur Karya Habib Umar bin Hafidz bin Syaikh Abu Bakar bin Salim [baca
Disebabkan karena file bacaan maulid nabi muhammad terlalu banyak jadi, tidak saya posting dalam artikel ini. Kalian bisa membaca satu per statu atau download kumpulan bacaan maulid tersebut. Mungkin cukup sekian pada postingan kali ini mengenai dalil dan bacaan maulid nabi muhammad saw. Mari kita merayakannya sebagai bentuk cinta dan meneladani sifat dan perilakunya. Terima kasih

sumber : nu.or.id